
ref: vivanews.com

ref: vivanews.com

ref: situslakalaka.blogspot.com


G-string adalah jenis celana dalam yang biasa dipilih untuk menciptakan kesan seksi. G-string pun menjadi favorit saat berbusana ketat, agar bentuk celana dalam tak tercetak di gaun. Namun, pemakaian celana dalam ini mengundang perdebatan. Ada penelitian yang menyebut keseksian g-string mengundang sejumlah risiko penyakit kewanitaan, seperti urinary tract infection (UTI). Namun, penelitian lain membantahnya.

Pemakaian g-string juga dikata meningkatkan risiko iritasi kulit. Permukaan celana yang mengerucut seperti tali memudahkan gesekan di bagian kulit. Gesekan yang terjadi sepanjang hari inilah yang seringkali menimbulkan iritasi karena kulit di area intim sangat lembut dan sensitif. Sementara The American Journal of Epidemiology memublikasikan sebuah studi pada 1987 yang seolah melawan hasil penelitian Masterson. Studi ini tidak menemukan indikasi pengaruh pemakaian g-string terhadap munculnya infeksi pada organ intim wanita.
G-String bisa sebabkan iritasi dan perkembangan bakteri
Memperkuat simpulan itu, studi Universitas Nara Women Jepang pada 1994 menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara pemakaian pakaian dalam berbahan dasar katun dan bahan sintesis lainnya. Namun, pakaian dalam berbahan katun tetap lebih dianjurkan karena membuat kulit lebih mudah bernapas.
Walau demikian, studi menunjukkan bahwa responden wanita yang memakai pakaian dalam berbahan katun maupun bahan sintetis lainnya memiliki kelembapan kulit dan temperatur yang sama. Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa pemakaian pakaian dalam berbahan sintesis membuat kulit lebih cepat berkeringat dan lebih lembab.
Terlepas dari hasil penelitian yang bertentangan itu, sejumlah pakar kesehatan mengingatkan pentingnya merawat kebersihan organ intim. Hentikan pemakaian celana dalam jenis tertentu jika mengalami iritasi. Setiap orang memiliki sensitivitas berbeda terhadap bahan celana dalam. (Sumber)
Emosi dan suasana hati dipengaruhi oleh status hidrasi atau keseimbangan cairan tubuh. Saat tubuh kehilangan banyak cairan dan kurang diimbangi dengan banyak minum, emosi sulit dikendalikan sehingga orang menjadi mudah tersinggung dan marah-marah. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan 2 ahli saraf dari University of Connecticut, Lawrence E Armstrong dan Harris R Lieberman. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2009 ini melibatkan 26 pria dan 25 wanita sehat yang disuruh berolahraga 3×40 menit dalam ruangan bersuhu 28 derajat celcius.
Kurang cairan, gampang marah siram dengan cairan saja
Para partisipan dikondisikan untuk tidak banyak minum, meski aktivitas yang dilakukan membuat tubuhnya sangat berkeringat. Tingkat hidrasi para partisipan diukur tiap jeda istirahat, lalu dibandingkan dengan status kejiwaan dan kemampuan berpikirnya yang diukur lewat psikotes.
Kemampuan berpikir tampak mengalami penurunan seiring makin banyaknya cairan tubuh yang hilang melalui keringat. Pada tingkat dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh 1,5 persen pada pria dan 1,3 persen pada wanita, kemampuan mengingat dan menjaga konsentrasi berkurang cukup signifikan.
Sementara itu, dampak dari berkurangnya cairan tubuh juga teramati pada status mental dan kejiwaan. Pada level hidrasi tersebut, baik pria maupun wanita mulai merasakan letih pikiran, bingung, gelisah dan mudah terserang stres. Dosen ilmu gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Saptawati Bardosono, MSc atau biasa dipanggil dr Tati mengatakan gejala itu merupakan dampak dehidrasi ringan. Dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan tubuh kurang dari 10 persen.
“Makanya kalau rekan kerja mulai marah-marah, sarankan saja untuk minum. Mungkin dia hanya kurang minum,” kata dr Tati dalam jumpa pers bertema “Waspada Dampak Dehidrasi Ringan Terhadap Kinerja, Kognitif dan Mood” di Hotel Le Meredien Jakarta, Rabu (9/2/2011).
Meski hanya berdampak pada pikiran dan status mental kejiwaan, dampak dehidrasi ringan bisa mengurangi produktivitas. Seseorang yang mengalami dehidrasi ringan menjadi tidak produktif karena mudah panik, gelisah, tersinggung dan marah-marah. Pada level ini, dehidrasi belum menimbulkan gejala klinis seperti pusing, sakit kepala maupun kejang-kejang. Gejala klinis tersebut baru akan muncul jika dehidrasi dibiarkan terus menerus tanpa ada penanganan.
Dehidrasi yang fluktatif atau kumat-kumatan juga berdampak pada status mental kejiwaan. Menurut dr Tati, dehidrasi fluktiatif bisa menyebabkan halusinasi (mendengar suara-suara aneh), delusi (melihat hal-hal aneh) dan kehilangan kemampuan untuk memusatkan perhatian. (Sumber)
Upaya penghentian kehamilan atau aborsi ternyata tidak meningkatkan risiko gangguan mental pada pelakunya. Hal ini terungkap dalam riset yang diadakan di Denmark terhadap 365.550 remaja dan wanita yang pernah melakukan aborsi atau melahirkan anak pertama.
Dalam penelitian yang dilakukan, seluruh responden adalah perempuan sehat yang tidak memiliki riwayat masalah mental yang mengharuskan mereka mendapat perawatan di rumah sakit. Para peneliti menggunakan data pendaftaran di rumah sakit secara nasional sehingga bisa menelusuri riwayat kesehatan responden, sebelum dan setelah aborsi.
Penelitian dilakukan untuk melihat kesehatan mental responden selama periode 1995 dan 2007. Dalam periode itu 84.620 wanita melakukan aborsi dan 280.930 wanita melahirkan anak pertama.
Para peneliti lalu membandingkan status kesehatan mental responden sebelum dan setelah aborsi. Pada masa setahun setelah aborsi, 15 dari 1.000 wanita melakukan konseling psikiatri. Jumlah ini setara dengan wanita yang mencari bantuan konseling sembilan bulan sebelum tindakan aborsi.
Wanita yang melakukan aborsi, menurut peneliti, kebanyakan berasal dari kelompok yang memang sudah memiliki problem emosional sejak awal. Kebanyakan wanita dalam kelompok ini juga memiliki tingkat ekonomi rendah dan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Namun penelitian ini tidak mencari tahu mengapa kehamilan itu diakhiri.
Tindakan aborsi di Denmark merupakan tindakan legal dan diatur dalam undang-undang sejak 1973.
Sementara itu, kelompok perempuan yang melahirkan dan mengalami masalah mental justru lebih tinggi. Tujuh dari 1.000 wanita melahirkan mendapatkan terapi konseling. Jumlah ini naik dari 4 wanita sebelum mereka melahirkan.
Masalah mental yang dialami wanita dari kedua kelompok adalah kecemasan, stres berat, dan depresi
