Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Thursday, November 11, 2010

Film Action Dorong Remaja jadi Agresif


Menonton berbagai tayangan yang memperlihatkan aksi kekerasan seperti halnya pada film, program televisi, ataupun video games berpotensi membentuk pribadi remaja putra yang agresif.

Kesimpulan itu didapatkan setelah diadakan penelitian terhadap 22 remaja putra berusia 14-17 tahun yang telah diperlihatkan tayangan video aksi kekerasan sementara mesin pemindai memantau aktivitas otak mereka.

Hasilnya cukup mengejutkan, semakin lama mereka menonton tayangan itu, mereka lama-kelamaan menjadi terbiasa dan cuek saat melihat adegan kekerasan.

Ketua penelitian Dr Jordan Grafman dari Institut Kesehatan Nasional Bethesda, Maryland, Amerika Serikat, mengatakan, "Kami menemukan bahwa para remaja putra yang terpapar tayangan kekerasan dalam jangka panjang, aktivasi di daerah otak yang terkait dengan reaktivitas emosi menurun. Hal itu dapat terlihat dari data yang diambil memlaui MRI dan respons dari konduktansi kulit."

Ia memaparkan penemuan ini terbilang penting karena tayangan kekerasan menghambat reaksi emosional dari waktu ke waktu sehingga tingkat emosi seorang remaja normal lama-kelamaan akan terkikis. Untuk itu, dikhawatirkan remaja akan semakin kebal dan cuek terhadap kekerasan dan bahkan dapat menerimanya sebagai sesuatu yang biasa. Mereka pun cenderung akan bersifat lebih agresif karena tingkat emosi mampu mengerem agresivitas semakin berkurang.

Penelitian yang mengombinasikan kumpulan data perilaku, aktivitas otak, dan konduktansi kulit ini merupakan studi yang paling komprehensif dalam hal analisis mengenai kaitan antara agresivitas dan kekerasan yang diakibatkan media. Hasil studi ini pun telah dipublikasikan pada jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience edisi Oktober 2010.

Ada baiknya kita selalu memantau apa yang ditonton putra kita di televisi ataupun pada komputernya agar mereka tak menjadi pribadi yang cuek dan agresif.

Tuesday, November 9, 2010

Gejala Stres pada Anak

Me time bagi anak dibutuhkan untuk memberinya kesempatan merasa nyaman, santai, dan rileks tanpa aktivitas rutin yang harus ia jalani. Sebaliknya, bila terlalu terbebani oleh aktivitas rutin di rumah dan sekolah, maka anak bisa dilanda stres.

Sebenarnya, dalam skala ringan, stres merupakan respons wajar yang timbul, baik dari dalam diri saat ada tekanan, tuntutan, maupun ancaman yang menyerang, baik fisik maupun psikis. Namun, jika hal sudah berat sampai mengganggu aktivitas anak, maka stres harus diatasi.

Ada dua jenis stres, eustress dan distress. Eustress berdampak baik karena disikapi dengan cara mengubahnya menjadi sesuatu yang positif. Misalnya, anak takut tidak lulus ujian, maka ia atasi dengan giat belajar. Adapun distress memiliki dampak buruk karena disikapi dengan cara negatif. Misalnya, anak takut terhadap guru yang galak lalu ia mogok sekolah.

Arahkan anak untuk bisa mengelola stres dengan baik supaya ia bisa mengubah distress menjadi eustress. Dalam hidup, permasalahan pasti selalu muncul: di sekolah, rumah, tempat les, tempat bermain, dan lainnya. Jika tak diajarkan, maka anak tak bisa mengatasi stres. Distress bisa saja muncul. Gejolak emosinya labil dan akhirnya berpengaruh terhadap aktivitas kesehariannya.

Stres bisa diketahui lewat gejala-gejala yang muncul dari sikap, prestasi belajar, bentuk tulisan, dan lainnya. Gejala-gejala itu antara lain,

* Resah dan tidak nyaman
Lihatlah perilaku anak, apakah ia resah dan merasa tidak nyaman? Biasanya hal ini ditunjukkan dengan sikap murung, rewel, mudah menangis, nafsu makan menurun, tidak bersemangat, mudah kesal, suka membangkang, dan lainnya.

* Nilai pelajaran menurun
Coba lihat nilai mata pelajarannya. Biasanya ada kecenderungan bahwa hal ini menurun karena semangat belajarnya menurun. Ia pun sulit konsentrasi mengerjakan tugas sekolah karena dibebani banyak pikiran.

* Ditunjukkan lewat gambar dan tulisan
Anak sedang mengalami tekanan atau stres, sementara dia tidak bisa mengatasinya. Hal ini biasanya ditunjukkan pula dengan gambar/tulisan anak yang tidak serapi sebelumnya. Biasanya gambar/tulisan anak terlihat kusut dan berantakan.

Bila ada gejala-gejala seperti di atas, maka dekati anak dan ajak ia berkomunikasi. Mungkin ia tengah sakit, mengalami masalah di sekolah, kurang istirahat, merasa terpaksa ikut les, dan lainnya. Jika ternyata ada masalah yang membuatnya tertekan, maka kita harus memberi respons. Buatlah ia merasa nyaman dengan menguatkan hatinya sehingga muncul gairah baru, lalu ambil solusi sesuai kasus. Misalnya, jika di sekolah ada masalah dengan guru yang galak, maka kita kuatkan hati anak, "Ia tidak galak kalau kamu rajin belajar!" Lalu bekerjasamalah dengan sekolah untuk membicarakan masalah ini.

Jika masalahnya ia tertekan ikut les karena ia tak berminat, maka cobalah gali kembali apakah sebenarnya keinginan sang anak. Jika benar ia tak berminat, maka jangan paksakan anak. Cari kegiatan lain yang memang dia sukai.

Monday, November 8, 2010

Arti Dari Tangisan Bayi


Bayi berkomunikasi lewat tangisan. Semua orangtua dan calon orangtua tahu ini. Tapi, tahukah Anda bahwa bayi juga bisa menangis ketika emosi Anda sedang negatif ?

Saking lembut dan perasanya bayi, mereka bisa membedakan sentuhan yang biasa (penuh kasih dan sayang) dengan sentuhan yang sedang emosi dari orang yang sama. Tak hanya itu saja, bayi memiliki tangisan berbeda untuk masalah yang berbeda.

Pada mulanya, tangisan bayi mungkin terdengar sama saja, tetapi bila orangtua cermat menyimak, lama-lama akan tahu “arti” jenis tangisan yang berbeda. Sampai dengan usia tiga bulan, bayi memang masih sering menangis, kemudian frekuensinya akan menurun dan orangtua biasanya dapat mengenali tangisannya.

- Bayi lapar, mula-mula terjadi tangisan yang ritmis, semakin lama semakin keras, dan akan berhenti setelah diberi susu.

- Mengantuk atau lelah, tangisannya berfluktuasi dalam hal nada serta volume suara dan tidak teratur. Tanda-tanda lainnya adalah mengisap jari, mengucek-ucek mata, menepuk-nepuk telinga, terlihat gelisah dan sesekali memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain.

- Kesakitan, tangisannya keras dan melengking. Setengah berteriak, tangisannya panjang. Wajahnya memperlihatkan rasa tidak nyaman.

- Pipis atau BAB, tangisannya terdengar berteriak dengan suara yang keras. Napasnya agak tersendat karena temponya berubah lebih cepat disusul dengan suara tangisan berikutnya.

- Takut. Tangisannya tiba-tiba, keras, dan melengking seperti megap-megap untuk menarik napas. Tangisan itu akan menghilang kalau rasa takut sudah teratasi.

- Bosan atau kesepian, tangisannya pendek-pendek, kadang diam, kemudian menangis pendek lagi.

Trik Internet Aman Untuk Anak

Anak umur belasan tahun terutama usia SMP dan SMA menjadi mangsa yang mudah diperdaya predator online. Pelaku kejahatan siber ini makin aktif mengintai mangsa dengan mulai masuk ranah pergaulan di jejaring sosial.

Berdasarkan hasil riset Yahoo! di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna terbesar internet adalah remaja usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Jika didasarkan pada UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, usia 0-18 tahun tergolong usia anak-anak. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler.

Data ini menunjukkan dengan sangat gamblang, terutama kepada orangtua, untuk lebih waspada merespons aktivitas anak melalui internet. Apalagi saat ini ponsel murah yang langsung terkoneksi dengan Facebook, misalnya, semakin mudah didapatkan.

Agar anak dan orangtua lebih aman berinternet, ikuti cara berikut ini:
Posisi komputer di zona aman
Tempatkan komputer di ruang yang mudah dipantau oleh orangtua. Dengan begitu anak tidak asik sendirian tanpa pengawasan. Jangan biasakan anak berinternet di kamar pribadi yang tak mudah diawasi.

Pasang piranti khusus di komputer
Pasang pengaman untuk membatasi anak agar tidak mengakses situs yang tidak layak. Piranti lunak dapat diunduh secara gratis di situs www1.k9webprotection.com dan www.kidrocket.com

Berikan ponsel tanpa internet
Ketegasan tetap perlu meski saat ini ponsel murah yang memberikan tawaran menggiurkan terkait akses internet semakin marak saja.

Ajarkan etiket berinternet
Jika anak berinternet, pastikan Anda sebagai orangtua untuk mendampingi, memberi batasan waktu, mengajari perilaku berinternet yang baik, dan menjelaskan aturan penggunaannya.

Aktif di jejaring sosial anak
Ikulah interaksi anak dalam jejaring sosialnya untuk mengontrol aktivitas dan teman-teman anak. Untuk menjalani kegiatan ini lebih baik orangtua berhati-hati, jangan terlalu mengintervensi, karena bagaimanapun anak punya privasi. Fungsi orangtua adalah sebagai pengawas jika melihat gelagat yang tidak beres.

Sunday, November 7, 2010

7 Sikap Menjawab Pertanyaan Anak Seputar Seks

Pendidikan seks merupakan upaya pengajaran, penyadaran, serta pemberian informasi tentang masalah seks dan menanamkan moral, etika, komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan

Berbagai informasi yang semakin terbuka, mau tak mau, sampai ke telinga anak. Anak masa kini juga semakin cerdas dan kritis dengan pengalaman eksplorasi dirinya. Termasuk seputar tubuh dan seksualitas.

Sebagai orangtua, jangan mudah gusar saat anak mulai bertanya tentang payudara, penis, dan vagina. Lebih jauh lagi, jika anak mulai ingin tahu, apa itu melahirkan atau mulai membandingkan ukuran kelaminnya.

Psikolog Sani B Hermawan, Psi, menyebutkan tujuh sikap orangtua yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak:

1. Luangkan waktu dan mulailah dialog
Bersikaplah aktif, jangan hanya menunggu. Sebagai orangtua, Anda perlu berinisiatif membangun dialog dengan anak, dengan memberikan pemahaman seks sesuai kebutuhan dan tahapan anak (lihat tahapan edukasi seks). Luangkan waktu bersama pasangan untuk membangun dialog dengan anak.

"Jangan hanya menunggu anak bertanya kepada Anda, nanti terlambat, anak sudah telanjur merajalela mencari informasi dari luar yang belum tentu benar," tutur Sani.

2. Terbuka dan informatif
Orangtua perlu lebih terbuka kepada anak-anak dalam mentransfer informasi. Terkait seputar seksualitas, orangtua perlu memberikan pemahaman sikap yang dibolehkan dan yang tidak. Tumbuhkan rasa malu dalam diri anak, kata Sani. Misalnya, keluar dari kamar mandi tidak boleh telanjang, tetapi harus menutupi tubuhnya. Dengan cara ini anak bisa belajar bersikap dan membedakan sikap baik dan buruk seputar tubuhnya.

3. Lengkapi dengan materi
Bekali diri dengan membaca berbagai referensi. Sempatkan waktu bersama pasangan untuk berdialog dengan para pakar. Sebagai orangtua dalam era pola asuh modern, Anda perlu membekali diri dengan berbagai informasi yang benar. Termasuk cara menyampaikan yang tepat kepada anak, misalnya tidak menggunakan bahasa kiasan, tetapi istilah ilmiah.

4. Gunakan alat bantu
Komunikasi lebih efektif jika menggunakan media atau alat bantu. Jika membutuhkan visualisasi, temukan gambar yang tepat untuk menjelaskan maksud Anda. Alat peraga seputar tubuh yang bersifat edukasi juga bisa membantu Anda.

5. Menambah wawasan
Jangan pernah bosan belajar menjadi orangtua, dengan menggunakan berbagai jaringan dan kesempatan bertemu para pakar. Berinvestasi untuk masa depan anak lebih baik bukan? Anda bisa mencari informasi berbagai kegiatan parenting, seperti seminar, talkshow, atau workshop. Beberapa mungkin memerlukan sejumlah biaya, tetapi tak sedikit pula kegiatan edukasi untuk orangtua yang disediakan gratis, asalkan Anda dan pasangan cukup jeli dan teliti memantau perkembangan.

6. Tanamkan bahwa edukasi seks penting
Pemahaman orangtua tentang pentingnya edukasi seks tak seragam. Seks masih saja menjadi pembicaraan tabu yang dihindari. Padahal, dengan menanamkan kesadaran bahwa edukasi seks memegang peranan penting bagi tumbuh kembang anak, keluarga akan terhindar dari realitas sosial yang mengkhawatirkan. Pelecehan seksual atau hamil di luar nikah, misalnya.

7. Diskusi dengan ahli
Pakar yang memiliki spesialisasi seputar seksualitas, termasuk psikolog, membuka ruang konsultasi bagi orangtua. Tak sedikit psikolog seksual yang memang menaruh perhatian besar dengan masalah seksualitas. Konsultasikan masalah keluarga, terkait seksualitas, kepada ahlinya. Dengan demikian, Anda mendapatkan informasi yang tepat dan valid, baik dari segi kesehatan fisik maupun psikis.

Friday, November 5, 2010

Kiat Menjadi Orangtua Yang Sukses

Anda pasti tahu, tak ada jalan pintas menjadi orangtua yang baik. Menjadi orangtua itu tidak mudah. Tapi ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk membuat tugas ini sedikit lebih mudah, apapun situasi Anda. Apakah Anda punya 1 anak atau 6 anak, Anda akan sukses.
Menjadi orangtua beda dengan pekerjaan lainnya di dunia. Bayarannya membingungkan. Tak ada izin sakit atau izin tidak bekerja. Setiap orangtua punya hari-hai yang membuat tidak waras, tapi bahkan di hari seperti inipun, Anda dapat menciptakan realita yang baik untuk diri sendiri.

Mulai dengan langkah mundur
Jika anak balita ANda menjerit, menangis berguling-guling di lantai, atau anak praremaja Anda bertingkah, Anda mungkin sulit untuk tenang. Jadi, pastikan anak Anda berada di tempat yang benar-benar aman (di ranjang bayi atau di kamar yang aman di dalam rumah) jangan menyerahkan kunci mobil pada anak yang lebih besar dan luangkan waktu 10 menit untuk diri sendiri. Jika Anda harus menyalakan keran air untuk menutupi suara teriakan anak, lakukan. Gunakan waktu 10 menit untuk menenangkan diri.Telepon sahabat karib, update status facebook atau bahkan cat kuku. Lakukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran Anda dari situasi saat itu.

Setel timer
Ketika kembali ke anak-anak, setel timer. Anda akan dapat menangani anak yang menangis, perang pekerjaan rumah, rengekan atau apapun yang lainnya selama 10 menit. Anda mungkin menemukan semua itu selesai ketika timer berbunyi. Jika tidak, timer sendiri mengalihkan perhatian untuk anak yang lebih muda. Untuk anak yang lebih tua, cukup katakan "Sorry, waktunya selesai, kamu bisa kerjakan yang lainnya atau ke kamar tidur untuk melanjutkannya.

Kreatif
Yang menyenangkan dari menjadi orangtua adalah, Anda merasa dikit demi sedikit menjadi ahli. Anda bisa bereksperimen dengan semua waktu untuk menemukan apa yang jalan.Dan apa yang jalan hari ini kemungkinnan tidak pada keesokannya. Intinya adalah, jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru, anak balita Anda menjadi tenang dengan musik tertentu. Anak remaja Anda mungkin setuju untuk bergabung dan ngobrol Anda. Anda tak akan tahu jika tidak mencoba.

Tetapkan tuntutan atau permintaan
Anda mungkin tak akan berhasil jika bilang pada anak umur 6 bulan, bahwa Anda mengharapkan waktu istirahat yang tenang di hari itu. Tapi dengan anak yang lebih tua,bahkan yang berumur 3 atau 4 tahun. Anda dapat menetapkan tuntutan yang jelas dan anak Anda mungkin akan mengagetkan Anda. Pastikan tuntutan atau permintaan Anda realitas. Anak umur 4 tahun tak akan bisa bermain tenang selama 2 jam, tapi Anda bisa menyuruhnya tinggal di kamarnya dan bermain selama 2 menit sambil Anda menyiapkan teh. Anak remaja Anda pasti paham. Anda mengharapkan mobil Anda kembali dengan kondisi yang sama jika dipinjam, terutama jika juga terdapat akibat dari permintaan tersebut.

Bayangkan Anda ideal
Ambil waktu 5 menit untuk duduk dan tuliskan hari ideal Anda.Lalu pikirkan apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari sana. Perubahan apa yang harus dilakukan? Apa yang bisa Anda lakukan saat ini untuk memulai jalan ideal? Anda mungkin mengagetkan diri sendiri ketika memulai eksperimen ini. Anda mungkin jauh lebih dekat dengan ideal Anda dibanding yang Anda duga.

Wednesday, November 3, 2010

Penyebab Anak Telat Berkembang

Secara statistik sekitar 3 persen balita tidak bisa mencapai perkembangan motoriknya tepat waktu. Tapi dari angka itu hanya sekitar 15-20 persen anak saja yang perkembangannya abnormal, selebihnya masih bisa berkembang normal meski sedikit lebih lambat.

Apa penyebab
keterlambatan motorik anak?

Dikutip dari Keepkidshealty.com, keterlambatan perkembangan motorik terjadi ketika anak tidak bisa mencapai satu atau lebih tonggak perkembangannya.

Perkembangan motorik ini mencakup kemampuan berbicara dan berbahasa, keterampilan motorik halus atau kasarnya seperti jalan atau merangkak, keterampilan pribadi dan sosialnya seperti kemampuannya berinteraksi.

Beberapa tanda anak mengalami keterlambatan motorik adalah:

1. Anak belum bisa berguling hingga usia 6 bulan
2. Belum bisa duduk sendiri tanpa dibantu hingga berusia 8 bulan
3. Belum bisa merangkak hingga usia 12 bulan
4. Belum bisa berjalan hingga usia 15 bulan.


Jika anak mengalami banyak keterlambatan di semua bidang perkembangan penyebab antara lain:

1. Encephalopathy (gangguan sebelum atau mendekati kelahiran) statis termasuk kelahiran prematur
2. Kelainan otak
3. Kelainan kromosom
4. Infeksi.
5. Serta encephalopathy progresif termasuk penyakit metabolik, sindrom neurocutaneous, sindrom Rett dan hydrocephalus.


Selain faktor kelainan di dalam tubuh si anak, keterlambatan perkembangan motorik anak juga bisa disebabkan oleh sedikitnya rangsangan yang diterima si kecil baik oleh pengasuh, orangtua atau melalui mainannya.

Saat masih bayi ia memiliki sedikit kesempatan untuk bergerak atau mengeksplorasi tubuhnya, sehingga ia tidak belajar bagaimana caranya bergerak dengan baik.

Misalnya ia memiliki sedikit kesempatan untuk bermain dengan mainannya, jarang terlibat dengan anak-anak lainnya saat sedang bermain, tidak terlalu sering diajak berkomunikasi serta tidak mendapatkan atau jarang diajak bermain secara sosial dan verbal dengan orang dewasa.

Pola asuh dari orangtua juga berpengaruh, orangtua yang sangat berhati-hati atau protektif bisa berkontribusi terhadap keterlambatan motorik anak, seperti tidak membiarkan anak bergerak dengan bebas atau terlalu sering menggendong anaknya terutama pada bayi yang sudah berusia 8 bulan.

Kondisi ini akan membuat anak menjadi terlambat merangkak atau berjalan serta jika ia terjatuh akan takut untuk mencobanya lagi. Karenanya orangtua harus membiarkan anaknya untuk bergerak bebas serta tidak terlalu sering menggendong, sebatas tidak membahayakan si anak.

Tidak ada atau kurangnya pengalaman yang dialami si kecil bisa menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik baik yang ringan maupun yang signifikan. Jika keterlambatan motorik ini tidak segera diatasi, cenderung akan diikuti oleh keterlambatan motorik visual, motorik halus atau komunikasi.

Namun jika penyebab keterlambatannya akibat kondisi penyakit tertentu, maka orangtua sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter agar bisa di deteksi secara dini sehingga dapat dilakukan terapi untuk mengatasinya.

Ekspresi Wajah yang Disukai Bayi

Melihat bayi yang tersenyum pasti akan membuat orang disekitarnya senang. Ternyata bayi yang baru lahir lebih menyukai wajah-wajah yang menarik. Wajah seperti apa yang disukai bayi?

Alan Slater dan rekannya dari University of Exeter menunjukkan bahwa bayi akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat wajah yang menarik, sehingga bisa membuatnya tersenyum atau bahkan tertawa.

Selain wajah, bayi juga memiliki ketertarikan terhadap benda-benda tertentu seperti gambar dengan warna kontras tinggi, benda-benda melengkung dan bentuk fisiologis yang salah satunya berasal dari mimik wajah seseorang.

Bayi yang tersenyum atau tertawa memiliki peran penting dalam hal perkembangan emosional dan sosialnya. Selain itu senyum dan tawa merupakan cara seorang bayi memiliki hubungan yang positif dengan orang-orang serta memiliki perasaan bahagia dan puas.

Seperti dikutip dari eHow, Selasa (2/11/2010) ada beberapa ekspresi wajah yang disukai bayi sehingga bisa membuatnya tersenyum atau tertawa, yaitu:
1. Bayi menyukai wajah yang tersenyum
Karenanya jika ingin bermain dengan bayi jangan lupa untuk selalu tersenyum sambil melembutkan pandangan mata dan juga wajah rileks.

2. Bayi menyukai wajah yang alami dan tidak dibuat-buat.
Jika seseorang memberikan senyuman setengah hati maka bayi akan terlihat menjauh atau hanya memberikan tatapan kosong saja.

3. Bayi menyukai sedikit kejutan seperti acungan jempol atau memberikan kedipan.
Jika bertemu bayi cobalah melihat langsung ke matanya, merilekskan alis, menarik napas panjang dan tersenyum sambil memberikan sedikit kejutan seperti kedipan mata atau acungan jempol. Sebaiknya tidak perlu malu-malu jika bertemu bayi.

4. Menunjukkan beberapa gaya wajah menggoda.
Beberapa bayi menyukai wajah yang menggodanya, seperti permainan mengintip, memanggilnya dengan suara lembut atau wajah tersenyum sambil mengangkat alis.

5. Tunjukkan ekspresi wajah-wajah lucu.
Umumnya bayi menyukai wajah yang ekspresif seperti menggerakkan hidung dan telinga secara bersamaan, ekspresi wajah yang pura-pura kaget atau bermain-main dengan menggunakan wajah lucu.

Jika ingin bermain-main atau membuat bayi tersenyum dan tertawa, janganlah menunjukkan wajah seram atau menakutkan dihadapannya karena akan membuatnya takut, menangis atau tidak mau lagi bermain dengan Anda.

Tuesday, November 2, 2010

Tips Agar Anak Rajin Menyikat Gigi

Memang tidak mudah membiasakan anak untuk rajin mengosok gigi apalagi menjaga kesehatan giginya. Makanan manis favoritnya dan rasa malas saat menggosok menjadi beberapa faktor penghalang Anda.

Tetapi jangan dulu khawatir, empat tips yang dikutip dari sheknows mungkin bisa membantu Anda mengajarkan si kecil kepada kebiasaan menjaga kebersihan gigi yang baik.

1. Langkah awal
Kebiasaan menjaga kesehatan gigi sebaiknya dimulai dari awal kelahiran, bahkan sebelum gigi anak tumbuh. Selalu bersihkan gusi bayi dengan tissue khusus gigi setelah makan. Hal ini berguna untuk menghilangkan plak dan sisa-sisa makanan atau minuman. Tissue khusus gigi bisa ditemukan di apotek. Sering memberikan stimulasi oral sejak dini dapat membantu memperkenalkan kebersihan gigi pada anak.

2. Dua sikat lebih baik
Sebagian anak-anak sangat menikmati pengalaman pertama menggosok gigi, namun tidak sedikit yang menggunakan kesempatan ini untuk mengunyah sikat gigi. Hal inilah yang menyebabkan bulu sikat melebar. Untuk menghindari hal itu, sediakan dua buah sikat gigi untuknya dan dampingilah ia saat akan menggosok gigi.

Dampingi dan bantu anak menggosok gigi sampai usianya mencapai delapan tahun. Ini semua karena anak yang berusia dibawah delapan tahun belum memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baik dengan sendirinya.

3. Coba alihkan perhatiannya
Jika anak tidak begitu menyukai acara menggosok gigi mereka, jangan samapi Anda kehabisan akal. Alihkan perhatiannya saat menggososk gigi dnegan mendengarkan
lagu atau cerita favoritnya. Buat waktu menggosok gigi menjadi lebih menyenangkan.

4. Coba pasta gigi lain
Jika si kecil tidak suka menggosok gigi bisa jadi karena rasa pasta giginya. Cobalah beberapa pasta gigi, ajak si kecil untuk memilihnya. Jika masih tidak juga suka, menyikat dengan air biasa lebih baik daripada tidak menyikat sama sekali.